Membangun Desa Butuh Ide Kreatif dan Konkrit!

 


Membangun desa tentu dapat dilakukan dengan berbagai upaya dan kegiatan khususnya melalui program-program pemerintah yang diturunkan di tingkat daerah dan desa. Desa juga sekarang banyak difasilitasi dengan adanya dana desa (DD), alokasi dana desa (ADD), bantuan Pempov, dan program bantuan keuangan lain yang beragam. Namun demikian, tidak semua desa mampu membangun dan mengubah statusnya menjadi desa yang maju dan mandiri. Bahkan secara mayoritas, jumlah desa yang tertinggal sampai saat ini (tahun 2022) masih mendominasi di tanah air. 

Dapat disimpulkan bahwa membangun desa tentu tidak mudah karena di desa terdapat sejumlah keterbatasan khususnya terkait SDM yang kompeten sekaligus memiliki rasa peduli kepada pembangunan desa. Adanya dukungan ekonomi dari pemerintah pusat maupun daerah jika tidak memiliki SDM yang kompeten maka dijamin desa akan stagnan, jalan di tempat, bahkan mengalami kemunduran. Kompeten di sini adalah memiliki wawasan dan kemampuan untuk mengkonsep pembangunan desa sesuai dengan potensinya. Kompetensi ini tentu tidak selalu bergantung pada Kepala Desa saja, tetapi dapat diwujudkan dengan kolaborasi bersama berbagai pihak, khususnya elemen masyarakat desa itu sendiri. Adanya kompetensi ini diharapkan akan melahirkan inovasi dan ide-ide kreatif yang akan diterapkan dalam membangun desa.

Kondisi sosial masyarakat dan ekonomi yang berbeda-beda di masing-masing desa mutlak membutuhkan gagasan yang kreatif dan inovatif karena saat ini adalah era kompetisi terbuka, sekaligus era disrupsi teknologi di berbagai lini. Tidak sedikit jenis pekerjaan yang berkembang sekarang sangat berbeda dari pekerjaan jaman dahulu. Perkembangan teknologi berbasis kecerdasan artifisial memaksa siapa saja untuk selalu beradaptasi dengan hal-hal baru yang sangat dinamis. Terobosan-terobosan segar dengan memanfaatkan potensi-potensi desa yang ada tentu dapat mendorong desa berakselerasi, baik secara ekonomi, sosial, budaya maupun politik.

Harus Konkret dan Kontinu

Ide kreatif ini tidak bisa dibiarkan mengawang dan hanya mengemuka dalam forum diskusi dan obrolan santai. Gagasan dan ide kreatif harus dapat diwujudkan menjadi sebuah program yang konkret dan menarik sehingga memiliki manfaat nyata untuk masyarakat. Inilah yang disebut sebagai aksi atau tidakan eksekusi yang membutuhkan sikap keteguhan dan keuletan pribadi. Eksekusi dibutuhkan untuk menguji ide kreatif yang muncul dan apakah ide tersebut dapat diimplementasikan di lapangan atau tidak. Jika sebuah ide hanya mampu diangan-angan dalam pikiran, maka itu namanya IDo (ide doang). Selanjutnya jika ide hanya mampu diobrolkan dalam forum diskusi maka dinamakan OmDo (omong doang). Ide selain harus bisa dikonsep dan dibahas, harus dapat diwujudkan dalam kegiatan yang konkret di masyarakat.

Program atau kegiatan yang konkret menunjukkan adanya ide kreatif yang bijaksana karena selain menunjukkan rasa kepedulian kepada desa, dengan aksi nyata dan berkesinambungan maka sebuah program akan berdampak positif terhadap masyarakat. Kegiatan dan program yang dilaksanakan juga harus dikawal secara bertahap dan selalu dievaluasi agar berjalan maksimal. Tidak sedikit program pemerintah yang mangkrak atau berhenti di tengah jalan karena tidak adanya pendampingan yang serius dan kontinu.

Misalnya saja ketika ada ide untuk mengkonsep desa wisata, dimana rumah-rumah warga desa akan dijadikan sebagai homestay untuk para wisatawan menginap sekaligus diberikan paket edukasi reliji bersama tim guidenya. Dalam pelaksanaanya tentu banyak hal yang harus disiapkan dan dikawal di lapangan seperti menyiapkan infrastruktur desa wisata, SDM pengelola, strategi pemasaran, dan hal-hal yang berkaitan. Ide desa wisata adalah ide kreatif, bahkan sangat kreatif. Tetapi hal yang penting lagi adalah bagaimana konkretnya untuk diimplementasikan? Dan apa yang dapat kita sumbangsihkan untuk membantu dan mengawal program tersebut sehingga bermanfaat untuk masyarakat?

Post a Comment

0 Comments